Senin, 04 Agustus 2014
Makalah Sejarah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perlu diketahui sejarah dari agama-agama yang ada di Indonesia. Untuk
itu saya membuat makalah ini, agar kita lebih jelas dalam memahami sejarah
adanya Agama Hindu-Budha.
B. Perumusan
Masalah
1.
Bagaimana awal mula
munculnya Agama Hindu di Indonesia?
2.
Bagaimana Proses
perkembangan Agama tersebut di Indonesia?
BAB II
KERANGKA
TEORITIS
A. Munculnya
Agama Hindu di Indonesia
Perkembangan
agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di India.
Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha. Agama
Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (kulit putih, badan
tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa (Peradaban Lembah Sungai
Indus) melalui celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan
mendesak bangsa Dravida (berhidung pesek, kulit gelap) dan
bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah
tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung
pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk
dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai
peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria
merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa
Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.
Orang
Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan
kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida
yang masih memuja roh nenek moyang. Berkembanglah Agama Hindu yang
merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan
bangsa Aria dan bangsa Dravida. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan
Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Istilah Hindu diperoleh dari
nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/
Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut kebudayaan Hindu yang
selanjutnya menjadi agama Hindu. Daerah perkembangan pertama agama Hindu adalah
di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya)
dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).
Dalam
ajaran agama Hindu dikenal 3 dewa utama, yaitu:
·
Brahma sebagai dewa pencipta segala sesuatu.
·
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam
·
Siwa sebagai dewa perusak
Ketiga
dewa tersebut dikenal dengan sebutan Tri Murti. Kitab suci agama Hindu disebut
Weda (Veda) artinya pengetahuan tentang agama. Pemujaan terhadap para dewa-dewa
dipimpin oleh golongan pendeta/Brahmana. Mereka mengenal pembagian masyarakat
atas kasta-kasta tertentu, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian
tersebut didasarkan pada tugas/ pekerjaan mereka.
·
Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan
keagamaan, terdiri dari para pendeta. Keberadaan kasta ini ada pada posisi
paling penting dan punya peranan yang sangat besar bagi berjalannya
pemerintahan. Mereka adalah orang yang paling mengerti menegnai seluk beluk
agama Hindu, serta menjadi penasehat raja.
·
Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan
termasuk pertahanan Negara. Yang termasuk dalam kasta ini adalah para
bangsawan, raja dan keluarganya, para pejabat pemerintah. Kasta ini memiliki
kedudukan yang penting dalam pemerintahan, punya banyak hak tetapi tidak
memiliki kewajiban untuk membayar pajak, memberikan persembahan, dsb.
·
Waisya bertugas berdagang, bertani, dan
berternak. Mereka yang tergolong dalam kasta ini adalah para pedagang besar
(saudagar),para pengusaha. Dalam golongan masyarakat biasa kasta ini cukup
memiliki peran penting.
·
Sudra bertugas sebagai petani/ peternak, para
pekerja/ buruh/budak. Mereka adalah para pekerja kasar. Mereka mempunyai banyak
kewajiban terutama wajib kerja tetapi keberadaannya kurang diperhatikan.
·
Di luar kasta tersebut terdapat
kasta Paria terdiri dari pengemis dan gelandangan.
Pembagian
kasta muncul sebagai upaya pemurnian terhadap keturunan bangsa Aria sehingga
dilakukan pelapisan yang bersumber pada ajaran agama. Pelapisan tersebut
dikenal dengan Caturwangsa/Caturwarna, yang berarti empat keturunan/ empat
kasta. Pembagian kasta tersebut didasarkan pada keturunan. Dalam konsep Hindu
sesorang hanya dapat terlahir sebagai Hindu bukan menjadi Hindu.
Perkawinan
antar kasta dilarang dan jika terjadi dikeluarkan dari kasta dan masuk dalam
golongan kaum Pariaseperti bangsa Dravida. Paria disebut
juga Hariyan dan merupakan mayoritas penduduk India.
B.
Muncul dan Berkembangnya Agama Budha
Agama Budha tumbuh di India
tepatnya bagian Timur Laut. Muncul sekitar 525 SM. Agama Budha muncul dan
dikenalkan oleh Sidharta (semua harapan dikabulkan). Agama Budha muncul
disebabkan karena :
Sidharta memandang bahwa adanya
sistem kasta dalam agama Hindu dapat memecah belah masyarakat, bahkan sistem
kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran.
Padahal setiap manusia itu sama kedudukannya.
Itulah fenomena yang ada di
lingkungannya sementara itu satu hal yang membuat Sidharta akhirnya berusaha
untuk menentang adat dan tradisi yang ada adalah karena beliau melihat adanya
kenyataan hidup bahwa manusia akan tua, sakit, mati, dan hidup miskin yang
intinya bahwa bagi Sidharta kehidupan adalah suatu “PENDERITAAN”. Oleh karena
itu manusia harus dapat menghindarkan diri dari penderitaan (samsara), dan demi
mencari cara atau jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan guna mencapai
kesempurnaan maka beliau meninggalkan istana dengan segala kemewahannya
melakukan meditasi tepatnya di bawah pohon Bodhi di daerah Bodh Gaya. Dalam
meditasinya tersebut akhirnya Sidharta memperoleh penerangan agung dan saat
itulah terlahir/ tercipta agama Budha. Agama Budha lahir sebagai upaya
pengolahan pemikiran dan pengolahan diri Sidharta sehingga menemukan cara
yang terbaik bagi manusia agar dapat terbebas dari penderitaan di dunia
sehingga dapat mencapai kesempuirnaan (nirwana) dan berharap tidak akan
terlahir kembali di dunia untuk merasakan penderitaan yang sama.
Menurut agama Budha kesempurnaan
(Nirwana) dapat dicapai oleh setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/
kaum Brahmana berbeda dengan ajaran Hindu dimana hanya pendeta yang dapat
membuat orang mencapai kesempurnaan. Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha
atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang
mencapai tujuan. Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang
menerima bodhi. Ajaran agama Budha dibukukan dalam kitab Tripitaka (dari bahasa
Sansekerta Tri artinya tiga dan pitakaartinya keranjang).
Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung dan kematian Sidharta terjadi
pada tanggal yang bersamaan yaitu waktu bulan purnama pada bulan Mei. Sehingga
ketiga peristiwa tersebut dirayakan umat Budha sebagai Triwaisak.
Dalam agama Budha tidak dikenal
adanya sistem kasta sebab sistem ini dipandang akan membedakan masyarakat atas
harkat dan martabatnya. Sehingga dalam Budha laki-laki ataupun perempuan,
miskin atupun kaya sama saja semuanya punya hak yang sama dalam kehidupan ini.
C.
Masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia
Terdapat beberapa teori mengenai
siapakah yang membawa masuknya agama Hindu di Indonesia. Teori-teori tersebut
antara lain:
1.
Teori Sudra (dikemukakan oleh Van Feber)
2.
Teori Waisya (dikemukakan oleh NJ.Krom)
3.
Teori Ksatria (dikemukakan oleh FDK Bosch)
4.
Teori Brahmana (dikemukakan oleh J.C. Van Leur)
5.
Teori Arus Balik (dikemukakan oleh M.Yamin)
Proses masuk dan berkembangnya
agama dan budaya Hindu-Budha ke Indonesia adalah sebagai berikut.
1.
Agama Budha
Agama Budha masuk ke Indonesia dibawa oleh para pendeta didukung dengan
adanya misi Dharmadhuta, kitab suci agama Budha ditulis dalam bahasa
rakyat sehari-hari, serta dalam agama Budha tidak mengenal sistem kasta. Para
pendeta Budha masuk ke Indonesia melalui 2 jalur lalu lintas pelayaran dan
perdagangan, yaitu melalui jalan daratan dan lautan. Jalan darat ditempuh lewat
Tibet lalu masuk ke Cina bagian Barat disebut Jalur Sutra, sedangkan jika
menempuh jalur laut, persebaran agama Budha sampai ke Cina melalui Asia
Tenggara. Selanjutnya sampai ke Indonesia mereka akhirnya bertemu dengan raja
dan keluarganya serta mulai mengajarkan ajaran agama Budha, pada akhirnya
terbentuk jemaat kaum Budha. Bagi mereka yang telah mengetahui ajaran dari
pendeta India tersebut pasti ingin melihat tanah tempat asal agama tersebut
secara langsung yaitu India sehingga mereka pergi ke India dan sekembalinya ke
Indonesia mereka membawa banyak hal baru untuk selanjutnya disampaikan pada
bangsa Indonesia. Unsur India tersebut tidak secara mentah disebarkan
tetapi telah mengalami proses penggolahan dan penyesuaian. Sehingga
ajaran dan budaya Budha yang berkembang di Indonesia berbeda dengan di India.
2.
Agama Hindu
Para pendeta Hindu memiliki misi untuk menyebarkan agama Hindu dan
melalui jalur perdagangan akhirnya sampai di Indonesia. Selanjutnya mereka akan
menemui penguasa lokal (kepala suku). Jika penguasa lokal tersebut tertarik
dengan ajaran Hindu maka para pendeta bisa langsung mengajarkan dan
menyebarkannya. Dalam ajaran agama Hindu konsepnya adalah seseorang terlahir
sebagai Hindu bukan menjadi Hindu maka untuk menerima ajaran agama Hindu orang
Indonesia harus di-Hindu-kan melalui upacara Vratyastoma dengan
pertimbangan kedudukan sosial/ derajat yang bersangkutan (memberi kasta). Hubungan
India-Indonesia berlanjut dengan adanya upaya para kepala suku/ raja lokal
untuk menyekolahkan anaknya/ utusan khusus ke India guna belajar budaya India
lebih dalam lagi. Setelah kembali ke tanah air mereka kemudian menyebarkan
kebudayaan India yang sudah tinggi. Bahkan tak jarang mereka mendatangkan para
Brahmana India untuk melakukan upacara bagi para penguasa di Indonesia, seperti
upacara Abhiseka, merupakan upacara untuk mentahbiskan seseorang menjadi
raja. Jika di suatu wilayah rajanya beragama Hindu maka akan memperkuat proses
penyebaran agama Hindu bagi rakyat di daerah tersebut. Berikut
kerajaan-kerajaan hindu yang pernah berdiri di Indonesia.
D.
Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai dengan nama asli
Kutai Martadipura merupakan kerajaan hindu tertua di Indonesia, dengan aliran
agama hindu-siwa. Letaknya di Muara Kaman tepatnya pada hulu sungai Mahakam,
Kalimantan Timur.
Keberadaan kerajaan ini ditandai
dengan adanya 7 buah prasasti, yang dinamai prasasti yupa. Dengan palawa
sebagai hurufnya,dan sansekerta sebagai bahasanya. Pendirinya adalah Raja
Kudungga. Setelah Raja Kudungga wafat, kerajaan diambil alih oleh putranya,
Raja Aswawarman. Dan setelah Raja Aswawarman wafat, kerajaan diambil alih oleh
putra Raja Aswawarman, yaitu Raja Mulawarman.
Pada sebuah prasasti Yupa abad
ke-4, dikisahkan bahwa Raja Mulawarman telah menyumbangkan 20.00 ekor sapi
kepada para brahmana. Kisah ini menceritakan betapa dermawannya seorang Raja
Mulawarman, oleh karena itu, dari sekian banyak raja yang memimpin kerajaan Kutai,
Raja Mulawarman lah yang paling terkenal.
Keruntuhan kerajaan Kutai
Martadipura disebabkan oleh tewasnya raja terakhir Kutai Martadipura yang kalah
memperebutan kekuasaan dari kerajaan Kutai Kartanegara di bawah pimpinan Aji
Pangeran Anum Panji Mendapa. Awalnya Kutai Kartanegara merupakan bagian dari
kerajaan Kutai Martadipura, namun karena perbedaan kepercayaan, di mana Kutai
Kartanegara menganut kepercayaan agama islam, akhirnya perebutan kekuasaan pun
terjadi dan berakhir dengan Kutai Kartanegara sebagai pemenang.
E.
Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan dengan nama asli
Tarumanagara ini terletak di daerah Bekasi, Jawa Barat bagian utara. Raja yang
paling terkenal adalah raja yang ke-3, yaitu Raja Purnawarman. Keberadaan
kerajaan hindu dengan aliran hindu wisnu ini diketahui dengan ditemukannya
beberapa prasasti yang menceritakan tentang keberhasilan-keberhasilan kerajaan.
Prasasti-prasasti tersebut antara lain:
1.
Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di kebon kopi milik
Jonathan Reck
2.
Prasasti Tugu, ditemukan di daerah Bekasi,
menceritakan tentang penggalian Sungai Gomati oleh kerajaan Tarumanagara
3.
Prasasti Cidanghiang, ditemukan di daerah
Pandeglang
4.
Prasasti Ciaruteun, ditemukan di aliran Sungai
Ciampea, menggambarkan betapa perkasanya seorang raja Purnawarman dengan telapak
kaki besarnya yang terukir di prasasti tersebut
5.
Prasasti Muara Cianten, ditemukan di daerah Ciampea
6.
Prasasti Jambu, ditemukan di daerah Nanggung, Bogor
7.
Prasasti Pasir Awi, ditemukan di daerah Cieteureun
Selain ditemukannya
peninggalan-peninggalan berupa prasasti, ternyata ditemukan pula peninggalan
berupa candi yang dikenal dengan sebutan Candi Jiwa, letaknya di daerah
Karawang.
Selain peninggalan sejarah berupa
prasasti dan candi, terdapat pula sumber-sumber sejarah lain mengenai kerajaan
ini seperti:
1.
Fa hien, pada kitab Fa Kao Chi dari China
2.
Dinasti Sui, tahun 528 dan 535 Masehi
3.
Dinasti Tang, tahun 666 dan 669 Masehi
4.
Naskah wangsakerta yang menceritakan tentang
pendirian kerajaan Tarumanegara
Akhir dari kerajaan ini
disebabkan oleh keinginan Tarusbawa untuk membawa kerajaan Tarumanagara kembali
ke kerajaan Sunda, namun salah satu saudara Tarusbawa yang bernama Galuh tidak
setuju jika kerajaan Taruma kembali ke kerajaan Sunda, akhirnya Galuh pergi
dari kerajaan Taruma, dan kembali datang untuk merebutnya kekuasaan kerajaan
Sunda yang awalnya adalah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, akhirnya kerajaan
itu pun diubah menjadi Kerajaan Sunda Galuh.
F.
Mataram Kuno
Menurut Teori Van Bammalen, letak
kerajaan ini berpindah-pindah, hal ini disebabkan
oleh 2 alasan, yaitu karena adanya bencana alam letusan Gunung Merapi, dan
karena adanya peperangan dalam perebutan kekuasaan. Awalnya, pada abad ke-8
kerajaan ini terletak di daerah Jawa Tengah, kemudian setelah Gunung Merapi
meletus pada abad ke-10, kerajaan ini dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu
Sindok.
Agama di kerajaan ini pun terbagi
menjadi 2, yaitu hindu pada Dinasti Sanjaya dan budha pada Dinasti Syailendra.
Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Raja Sanna. Raja Sanna kemudian digantikan
oleh keponakannya, Raja Sanjaya. Setelah Raja Sanjaya meninggal, Kerajaan
Mataram Kuno diperintah oleh putranya yang bernama Rakai Panangkaran. Raja
Mataram Kuno setelah Rakai Panangkaran adalah Rakai Warak, kemudian Rakai Warak
digantikan oleh Rakai Garung (Samaratungga). Di tengah-tengah
pemerintahan kerajaan Mataram Kuno, Datanglah keinginan Rakai Pikatan untuk
menjadi penguasa tunggal sebagai Dinasti Sanjaya. Persaingan antara Dinasti
Sanjaya yang dipimpin Rakai Pikatan dengan Dinasti Syailendra yang dipimpin
Raja Samaratungga, membuat cita-cita Rakai Pikatan untuk menjadi penguasa tunggal
di Pulau Jawa terhalang.
Terjadi pertikaian antar kedua
dinasti. Akhirnya pada abad ke-9 terjadi penggabungan kedua dinasti melalui
pernikahan politik antara Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dengan
Pramodawardhani dari Dinasti Syailendra. Namun, pernikahan antara Rakai Pikatan
dengan Pramodawardhani ternyata tidak membuahkan kedamaian, malah justru
membuat pertikaian antara Dinasti Sanjaya dengan Dinasti Syailendra semakin
sengit. Akhirnya, Rakai Pikatan sebagai Dinasti Sanjaya berhasil menguasai
kerajaan sedangkan Pramodawardhani bersama anaknya, Balaputradewa melarikan
diri ke Palembang, Sumatra Selatan untuk kemudian mereka menjalankan sebuah
kerajaan bernama Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan Prasasti Balitung, setelah
Rakai Pikatan wafat, kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Rakai Kayuwangi
dibantu oleh sebuah dewan penasehat yang juga jadi pelaksana pemerintahan.
Dewan yang terdiri atas lima patih ini di antaranya adalah:
·
Ratu, Datu, Sri Maharaja
·
Rakryan Mahamantri I Hino
·
Mahamantri Halu & Mahamantri I Sirikan
·
Mahamantri Wko & Mahamantri Bawang
·
Rakryan Kanuruhan
Raja Mataram selanjutnya adalah
Rakai Watuhumalang, kemudian dilanjutkan oleh Dyah Balitung yang bergelar Sri
Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Maha Dambhu sebagai Raja
Mataram Kuno yang sngat terkenal. Raja Balitung berhasil menyatukan kembali
Kerajaan Mataram Kuno dari ancaman perpecahan. Di masa pemerintahannya, Raja
Balitung menyempurnakan struktur pemerintahan dengan menambah susunan hierarki.
Bawahan Raja Mataram terdiri atas tiga pejabat penting, yaitu Rakryan I Hino
sebagai tangan kanan raja yang didampingi oleh dua pejabat lainnya. Rakryan I
Halu, dan Rakryan I Sirikan. Selain struktur pemerintahan baru, Raja Balitung
juga menulis Prasasti Balitung. Prasasti yang juga dikenal sebagai Prasasti
Mantyasih ini adalah prasasti pertama di Kerajaan Mataram Kuno yang memuat
silsilah pemerintahan Dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan
Mataram Kuno masih mengalami pemerintahan tiga raja sebelum akhirnya pusat
kerajaan pindah ke Jawa Timur. Mpu Daksa, yang pada masa pemerintahan Raja
Balitung menjabat Rakryan i Hino,melakukan kudeta karena merasa bahwa ia adalah
keturunan asli Dinasti Sanjaya, kemudian Mpu Daksa digantikan oleh menantunya,
Sri Maharaja Tulodhong.
Kerajaan Mataram Kuno berakhir
dengan sebuah peristiwa yang disebut Peristiwa Mahapralaya. Saat itu, Raja
Teguh Dharmawangsa sedang menikahkan putrinya, dengan Raden Wijaya. Di
tengah-tengah pesta, datang pasukan kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan kecil
sekutunya, Kerajaan Wurawari. Raja Teguh Dharmawangsa tewas, sedangkan putrinya
yang sedang menikah lolos dan berhasil melarikan diri ke Madura bersama
suaminya, Raden Wijaya.
G.
Kerajaan Kediri
Berdirinya Kerajaan Kediri
berawal ketika Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan kecil Wurawari berhasil
meruntuhkan kerajaan Mataram Kuno lewat Peristiwa Mahapralaya. Kekuasaan
Kerajaaan Mataram Kuno diambil alih, dan nama Mataram diubah menjadi Kediri.
Kerajaan Kediri merupakan kerajaan turunan Ajiwuwari. Raja pertamanya adalah
Raja Sri Jayawarsha. Kemudian dilanjutkan oleh Raja Bameswara. Dalam kitab
Kakawin Smaradahana, karangan Mpu Dharmaja, diceritakan bahwa Raja
Bameswara adalah keturunan pendiri Dinasti Isyana. Kemudian Raja Bameswara
digantikan oleh mertuanya, Jayabhaya. Pada masa pemerintahan Jayabhaya, terjadi
perang saudara ini diabadikan dalam bentuk Kakawin Bharatayuddha yang ditulis
oleh Mpu Sedah dan Mpu Punuluh. Jayabhaya berhasil memenangkan perang saudara
tersebut sehingga wilayah Kediri berhasil disatukan lagi dengan wilayah
Jenggala. Peristiwa kemenangan ini diabadikan dalam Prasasti Ngantang. Kemudian
Raja Jayabhaya digantikan oleh Raja Sarweswara dari Aryyeswara. Kemudian
digantikan lagi oleh Raja Gandra. Pada masa pemerintahannya, Gandra
menyempurnakan struktur pemerintahan yang diwariskan Kerajaan Mataram Kuno.
Setelah Raja Gandra, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Raja Kameshwara.
Pemerintahan Kameshwara ditandai dengan pesatnya hasil karya sastra Jawa. Pada
masa pemerintahannya, cerita-cerita panji atau kepehlawanan banyak dihasilkan.
Raja kerajaan Kediri berikutnya adalah Kertajaya atau Srengga. Pada masa
pemerintahannya, Kediri mulai mengalami masalah dan ketidakstabilan. Hal ini
karena Kertajaya berusaha membatasi dan mengurangi hak istimewa para kaum
Brahmana, kemudian di daerah Tumapel (sekarang Malang) muncul kekuatan baru di
bawah pimpinan Ken Arok. Perlahan-lahan, terjadi arus pelarian para Brahmana
dari wilayah Kediri menuju Tumampel. Kertajaya menyikapi arus pelarian ini
dengan mengerahkan tentara Kerajaan Kediri untuk menyerbu Tumapel. Perang
antara pasukan Kertajaya dan Ken Arok terjadi di Ganter. Pasukan Ken Arok
berhasil menghancurkan kekuasaan pasukan Kertajaya. Atas kekalahan ini,
Kerajaan Kediri memang seolah-olah telah runtuh, namun ternyata, secara
perlahan kerajaan Kediri masih berdiri dibawah pimpinan Raja Jayakatwang,
meskipun keberadaan mereka di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari.
H.
Kerajaan Singasari
Berdirinya Kerajaan Singasari,
saling berkaitan erat dengan Kerajaan Kediri dan Majapahit. Ketika Ken Arok
menjabat sebagai prajurit di Tumapel, di Kerajaan Kediri sedang berlangsung
perselisihan antara Raja Kertajaya dengan para Brahmana. Para Brahmana tersebut
melarikan diri ke Tumapel karena merasa lebih nyaman berada di Tumapel,
akhirnya terjadilah pertempuran antara Kerajaan Kediri dengan paukan akuwu
Tumapel. Dalam pertempuran di Ganter, Kerajaan Kediri mengalami kekalahan dan
Raja Kertajaya meninggal. Kemudian, Ken Arok menyatukan sebagian wilayah
Kerajaan Kediri dengan Tumapel, dan mendirikan Kerajaan Singasari, dengan
Tunggul Ametung sebagai rajanya. Ken Arok bergelar Sri Rangga Rajasa
(Rajasawangsa) atau Girindrawangsa di Jawa Timur. Istri pertamanya bernama Ken
Umang, Ken Arok mempunyai empat orang anak, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudhatu,
Panji Wregola, dan Dewi Rambi. Awalnya, Ken Arok hanyalah seorang anak desa
yang dilahirkan oleh seorang Ibu bernama Ken Nduk. Ia dididik oleh para
penjahat di lingkungan sekitarnya hingga dewasa, sehingga ia tumbuh dan
berkembang menjadi seorang penjahat yang suka mabuk, mencuri, dan membunuh.
Pada perjalan hidupnya, ia bekerja sebagai seorang prajurit di daerah Tumapel,
dan tertarik pada Ken Dedes, istri komandan Tunggul Ametung. Timbul keinginan
Ken Arok untuk memperistri Ken Dedes. Singkat cerita, Ken Arok berhasil
membunuh Tunggul Ametung dengan keris yang dibuat Mpu Gandring, kemudian ia pun
segera memperistri Ken Dedes. Setelah sekian lama, Ken Dedes akhirnya
menceritakan peristiwa pebunuhan suaminya tersebut kepada anaknya dari Tunggu
Ametung, Anusapati. Anusapati marah, dan berniat balas dendam, akhirnya
Anusapati berhasil membunuh Ken Arok dengan keris buatan Mpu Gandring yang
telah digunakan Ken Arok untuk membunuh ayah kandungnya. Panji Tohjaya, anak
kandung Ken Arok dengan Ken Umang mengetahui peristiwa pembunuhan ayahnya yang
dilakukan Tohjaya. Akhirnya dengan keris yang sama, Tohjaya berhasil membunuh
Anusapati. Ranggawuni, yang merupakan saudara dari Anusapati, mengetahui
pembunuhan yang dilakukan Tohjaya, akhirnya dengan keris yang sama, Ranggawuni
membunuh Tohjaya.Setelah kejadian bunuh membunuh berantai ini, akhirnya naik
tahta lah Raja Kertanegara sebagai raja yang terkenal dan terbesar dari kerajaan
Singasari. Ia mempunyai semangat Ekspansionis. Kertanegara bercita-cita
memperluas Kerajaan Singasari hingga keluar Pulau Jawa yang disebut dengan
istilah Cakrawala Mandala. Pada tahun 1275, ia mengirim pasukan ke Sumatra
untuk menguasai Kerajaan Melayu yang disebut sebagai Ekspedisi Pamalayu. Dalam
ekspedisi tersebut, Kerajaan Melayu berhasil di taklukan. Peristiwa ini
diabadikan pada alas patung Amoghapasha di Padangroco (Sungai Langsat).
Seorang utusan Cina bernama Meng
K’i pulang ke Cina, dan menceritakan pada kaisar Kubilai Khan bahwa Kerajaan
Melayu yang awalnya menjadi incarannya telah dikuasai dan ditaklukan oleh
Kerajaan Singasari. Kaisar Kubilai Khan begitu marah, ia segera mengirim
pasukan untuk menyerang Kerajaan Singasari. Mendengar wilayah kekuasaannya di
bagian Sumatra akan diserang, pasukan-pasukan Kerajaan Singasari segera dikirim
ke Sumatra untuk menghadapi serangan pasukan Cina. Sementara itu, Raja
Jayakatwang dari Kerajaan Kediri (kerajaan yang pernah dikalahkan Kerajaan
Singasari) melihat kesempatan baik untuk merebut kembali kekuasaan selagi
pasukan-pasukan Kerajaan Singasari dikirim ke Sumatra. Pada tahun 1292, Raja
Jayakatwang dengan pasukan Kerajaan Kediri langsung menyerang Ibu kota Kerajaan
Singasari.
Menurut cerita, pada saat serangan
musuh datang, Raja Kertanegara beserta para pejabat dan pendeta sedang
melakukan upacara Tantrayana, sehingga dapat dengan mudah mereka semua dibunuh
oleh musuh. Kerajaan Singasari akhirnya berhasil direbut kembali oleh
Jayakatwang, Raja dari Kerajaan Kediri.
I.
Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit merupakan
kerajaan hindu terakhir dan terbesar di Indonesia. Letaknya di Pulau Jawa.
Pendirinya adalah Raden Wijaya, menantu dari Raja Teguh Dharmawangsa (Kerajaan
Mataram Kuno) yang sempat melarikan diri ke Madura bersama istrinya saat
terjadi Peristiwa Mahapralaya.
Kerajaan Majapahit, awalnya
hanyalah sebuah desa kecil bernama Desa Tarik.Desa itu merupakan pemberian dari
Raja Jayakatwang dari Kediri atas kembalinya menantu Raja Teguh Dharmawangsa
(Raden Wijaya) dari Kerajaan Mataram Kuno yang telah lama dikuasai Kerajaan
Kediri. Raden Wijaya telah dimaafkan dan dipercaya tidak bersalah atas
kesalahan generasi atasnya.
Singkat cerita, pada tahun 1292,
armada Cina yang terdiri dari 1.000 buah kapal dengan 20.000 orang prajurit
tiba di Tuban, Jawa Timur dengan tujuan untuk menyerang Raja Kertanegara yang
telah merebut Kerajaan Melayu dan menyatakan tidak mau tunduk pada Kaisar
Kubilai Khan. Mereka tidak tau bahwa Raja Kertanegara beserta Kerajaan
Singasari itu telah meninggal dan hancur dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari
Kediri.
Mengetahui rencana penyerangan
dari Cina ini, Raden Wijaya mengambil kesempatan untuk merebut kembali Kerajaan
Singasari. Ia menggabungkan diri dengan pasukan cina dan menyerang Raja
Jayakatwang di Kediri. Kerajaan Kediri tidak mampu menghadapi serangan,
sehingga Raja Jayakatwang berhasil dikalahkan. Kemenangan itu membuat pasukan
Cina bergembira dan berpesta pora. Mereka tidak menyangka ketika sedang
berpesta pora, pasukan Majapahit balik menyerang mereka. Akhirnya pasukan
armada Cina kalah, dan mereka segera kembali ketanah airnya. Sejak saat itu
Kerajaan Majaphit mulai berkuasa. Pada tahun 1295, berturut-turut pecah
pembrontakan yang dipimpin oleh Rangga lawe dan disusul oleh Saro serta Nambi.
Pembrontakan-pembrontakan itu bisa dipadamkan. Raden Wijaya wafat pada tahun
1309 dan mendapat penghormatan di dua tempat, yaitu Candi Simping (Sumberjati)
dan Candi Artahpura.
Setelah Raden Wijaya wafat,
putera permaisuri Tribuwaneswari yang bernama Jayanegara menggantikannya
sebagai Raja Majapahit. Pada awal pemerintahannya Jayanegara harus menghadapi
sisa pemberontakan yang meletus dimasa ayahnya masih hidup. Selain pembrontakan
Kuti dan Sumi, Raja Jayanegara diselamatkan oleh pasukan pengawal (Bhayangkari)
yang dipimpin oleh Gajah Mada ia kemudian diungsikan ke Desa Bedager. Raja
Jayanegara wafat tahun1328 karena dibunuh oleh salah seorang anggota
dharmaoutra yang bernama Tanca. Oleh karena ia tidak mempunyai putra ia
kemudian digantikan oleh adik perempuannya Bhre Kahuripan yang bergelar
Tribuanatunggadewi Jayawishnuwardhani. Suaminya bernama Cakradhara yang
berkuasa di Singasari dengan gelar Kertawerdhana.
Dari kitab Negarakertagama,
digambarkan adanya beberapa pemberontakan di masa pemerintahan Ratu
Tribuanatunggadewi. Pembrontakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan di
Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Namun pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh
Gajah Mada. Setelah itu Gajah Mada bersumpah di hadapan Raja dan para pembesar
kerajaan bahwa ia tidak akan amukti palapa (memakan buah palapa), sebelum ia
dapat menundukan seluruh Nusantara di bawah naungan Majapahit. Pada tahun 1334,
lahirlah putra mahkota Kerajaan Majapahit yang diberi nama Hayam Wuruk. Pada
tahun 1350, Ratu Tribuanatunggadewi mengundurkan diri setelah berkuasa 22
tahun. Ia wafat pada tahun 1372. Pada tahun 1350, Hayam Wuruk dinobatkan
sebagai raja Majapahit dan bergelar Sri Rajasanagara dan Gajah Mada diangkat
sebagai Patih Hamangkubumi. Dibawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada,
Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan Majapahit menguasai
wilayah yang sangat luas. Hampir seluruh wilayah Nusantara tunduk pada
Majapahit, namun ada satu kerajaan kecil yang belum berhasil dikuasai kerajaan
Majapahit, yaitu Kerajaan Sunda Galuh. Raja Hayam Wuruk bersama Patih Gajah
Mada berusaha untuk menaklukan kerajaan tersebut, namun ketika itu Raja Hayam
Wuruk terlanjur jatuh cinta pada putri dari Kerajaan Sunda Galuh yang bernama
Dyah Pitaloka. Raja Hayam Wuruk bermaksud untuk menikahi Dyah Pitaloka. Ia
mengundang keluarga besar Kerajaan Sunda Galuh datang ke Kerajaan Majapahit
untuk menikah dengan Dyah Pitaloka. Ketika keluarga besar dari kerajaan Sunda
Galuh tiba di Kerajaan Majapahit, terjadi kesalahpahaman. Patih Gajah Mada
mengira bahwa keluarga besar Kerajaan Sunda Galuh ingin menyerang Kerajaan
Majapahit, akhirnya Patih Gajah Mada segera mengeluarkan pasukan dan membunuh
semua anggota keluarga Kerajaan Sunda Galuh. Hanya Dyah Pitaloka yang tidak
dibunuh. Melihat seluruh keluarganya tewas, Dyah Pitaloka pun akhirnya
melakukan belapati (bunuh diri) pada dirinya sendiri. Raja Hayam wuruk yang
mengetahui peristiwa kesalah pahaman tersebut menjadi marah, terlebih ketika
melihat calon istrinya mati karena bunuh diri atas kesalah pahaman patihnya.
Akhirnya, Raja Hayam Wuruk pun sakit, dan meninggal karena sakit hati. Sejak
kematian Raja Hayam Wuruk, maka Kerajaan Majapahit mencapai masa kemunduran,
perlahan-lahan kekuasaan Majapahit pun runtuh. Pada salah satu versi cerita,
dikisahkan Sang Patih, Gajah Mada pergi ke sebuah gunung untuk berdiam diri dan
menjadi pertapa karena merasa bersalah pada rajanya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Agama hindu-budha datang ke Indonesia melalui para
pedagang yang hendak pergi ke China. Para pedagang tersebut singgah cukup
lama di Indonesia untuk menunggu angin ke arah utara
·
Selama mereka singgah di Indonesia mereka
mengajarka agama Hindu
·
Lama kelamaan munculah berbagai kerajaan Hindu di
Indonesia, seperti Kerajaan Kutai, Tarumanagara, Mataram Kuno,
Kediri, Singasari, dan Majapahit.
·
Kerajaan Kutai, adalah kerajaan Hindu pertama di
Indonesia yang letaknya di Kalimantan Timur dengan Raja Kudungga
sebagai pendirinya, dan Raja Mulawarman sebagai Raja yang paling terkenalnya. Peninggalannya
berupa Prasasti Yupa
·
Kerajaan Tarumanegara, adalah kerajaan hindu yang
terletak di Bekasi dengan Raja Purnawarman sebagai rajanya yang
paling terkenal. Prasasti yang paling terkenalnya adalah Prasasti
Ciaruteun dengan terukirnya telapak kaki Raja Purnawarman yang begitu
besar
·
Kerajaan Mataram Kuno, adalah kerajaan yang
letaknya di Jawa Tengah dan sempat dipindahkan ke Jawa Timur,
alasan perpindahannya telah dijelaskan pada Teori Van Bamellen. Pernah
terjadi pertikaian antara Dinasti Sanjaya (Samaratungga) dengan
Dinasti Syailendra (Pramodhawardani) yang akhirnya membuat
Pramodhawardani melarikan diri ke Sumatra. Terdapat
peristiwa bersejarah yang disebut Peristiwa Mahapralaya di mana
Kerajaan ini hancur diserang Kerajaan Sriwijaya dengan
Kerajaan Wurawari ketika sedang diadakan pesta pernikahan
·
Kerajaan Kediri, adalah kerajaan yang telah
berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Pernah terjadi
pelarian kaum Brahmana ke wilayah Tumapel karena mereka tidak dihargai di Kerajaan Kediri.
Pelarian Brahmana tersebut membuat Kerajaan Kediri mencetuskan peperangan
dengan pasukan Tumapel dan menuai kekalahan
·
Kerajaan Singasari, adalah kerajaan yang awalnya
adalah daerah Tumapel yang kemudian berhasil membuat Kerajaan Kediri
tunduk, dan dikuasai. Kerajaan ini terkenal dengan kasus bunuh
membunuh antarkeluarga, yang dipicu oleh keinginan Ken Arok untuk
memperistri Ken Dedes. Kerajaan ini akhirnya dapat direbut kembali
oleh Kerajaan Kediri yang memanfaatkan kasus penyerangan pasukan
Kubilaikhan ke Kerajaan ini.
·
Kerajaan Majapahit, adalah Kerajaan Hindu terbesar
dan terakhir di Indonesia. Dengan Raden Wijaya sebagai pendirinya.
Awalnya kerajaan ini hanya sebuah desa kecil pemberian Jayakatwang, dari
Kerajaan Kediri yang telah berhasil merebut kekuasaan Kerajaan
Singasari. Namun, berkat kecerdikan Raden Wijaya, akhirnya Kerajaan
Kediri dapat dikalahkan Majapahit dengan siasat bekerjasama
dengan pasukan Kubilaikhan dari Cina. Raja Majapahit yang
paling terkenal adalah Raja Hayam Wuruk bersama patihnya, Gajah
Mada. Dengan sumpah palapa, Gajah Mada beserta rajanya, Hayam Wuruk
berhasil menyatukan nusantara, kecuali untuk sebuah kerajaan kecil,
yaitu kerajaan Sunda. Berakhirnya Kerajaan Majapahit, adalah
dengan meninggalnya Raja Hayam Wuruk karena patah hati tidak bisa menikahi
putri cantik dari kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka. Dyah Pitaloka bunuh diri
karena keluarganya mati dibunuh pasukan Majapahit yang diperintahkan Gajah
mada atas sebuah kesalahpahaman.
·
Dengan berakhirnya kekuasaan Majapahit, maka
berakhir pula kekuasaan kerajaan hindu di Indonesia. Maka mulai
bermunculanlah Kerajaan Islam
B.
Saran
Kita harus menjaga kelestarian dan budaya-budaya yang
ditinggalkan agama Hindu-Budha.
DAFTAR PUSTAKA
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah
melimpahkan karunia dan nikmat bagi umat-Nya. Alhamdulilaah Makalah ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas mata pelajaran Sejarah karena terbatasnya ilmu yang dimiliki oleh
penulis maka Makalah ini jauh dari sempurna untuk itu saran dan kritik yang
membangun sangat penulis harapkan.
Tidak lupa penulis sampaikan rasa
terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah turut membantu
dalam penyusunan Makalah ini. Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan
kepada kami mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin
Akhirnya penulis berharap semoga
Makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
Garut, Juli 2014
Penyusun,
|
i
|
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar...................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................... ii
Bab I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah.............................................................................. 1
Bab II KERANGKA
TEORITIS
A. Munculnya Agama Hindu di Indonesia............................................... 2
B. Muncul dan Berkembangnya Agama Budha........................................ 4
C. Masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia.............................. 5
D. Kerajaan Kutai...................................................................................... 7
E. Kerajaan Tarumanegara........................................................................ 7
F. Kerajaan Mataram Kuno....................................................................... 9
G. Kerajaan Kediri..................................................................................... 11
H. Kerajaan Singasari................................................................................ 12
I. Kerajaan Majapahit............................................................................... 13
Bab III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................... 17
B. Saran..................................................................................................... 18
|
ii
|
Langganan:
Komentar (Atom)